Gendongan Bayi sebagai Perwujudan Cinta Kasih Universal

 

Gendongan bayi memiliki makna mendalam berkaitan dengan kasih sayang orangtua kepada buah hatinya. Dari sehelai kain gendongan tercipta kedekatan dan keintiman antara ibu dan anak. Gendongan bayi merupakan wujud cinta kasih orangtua kepada anaknya yang bersifat universal dan ada dalam setiap kebudayaan manusia di mana pun.

“Cinta kasih orang tua yang sangat dalam pada anaknya itu universal. Di seluruh dunia, manusia menggunakan cara yang berbeda untuk menggendong bayi. Tetapi semua punya suatu maksud dan tujuan yang sama, yakni konsep pengasuhan, berkah, dan perlindungan. Serta cinta sebagai bahasa yang kekal abadi dan universal yang dituturkan oleh semua,” kata Chang Chi Shan, kurator Museum Nasional Prasejarah Taiwan ketika seminar di Museum Nasional, Jakarta Pusat, Jumat (20/10).

Ia menerangkan, berdasarkan kajian para akademisi Barat, bayi yang sering digendong mendapatkan lebih banyak kepuasan emosional daripada bayi yang diletakkan di kereta. Bayi yang digendong juga mampu merasakan gerakan penggendongnya serta membangun kepekaannya terhadap dunia.

Sedangkan menurut antropolog UI, Tony Rudyansjah, menggendong anak sembari mengerjakan kegiatan sehari-hari akan membiasakan anak dengan kegiatan orang dewasa. Anak secara alami mempelajari tahap demi tahap kehidupan yang akan ia jalani nanti. Dengan demikian, ketika dewasa ia tidak mengalami semacam shock terhadap dunia barunya.

“Pada masyarakat modern, anak sering dititipkan. Berbeda dengan masyarakat tradisional yang sering menggendong anaknya sembari melakukan pekerjaan sehari-hari. Itu mengajarkan tentang praktik kehidupan secara bertahap kepada anak, tidak ada pemisah antara dunia anak dan orang tua. Sehingga saat anak dewasa, dia enggak kaget dan bisa dengan natural memasuki jenjang kehidupan orang dewasa,” terang Tony.

Tak hanya dalam praktik menggendong, cinta dan kasih juga diwujudkan melalui beragam motif dan hiasan yang tersemat pada gendongan. Misalnya dalam kebudayaan suku Dong di barat daya China, mereka menyembah laba-laba dan menamakannya Nenek Laba-laba yang menjadi roh pelindung bayi-bayi. Oleh karena itu, orang Dong menyulam gendongan bayi dengan pola laba-laba. Harapannya, anak yang digendong mendapat diberkati dengan kejayaan, kepandaian, kebijaksanaan, kaya, sukses dan panjang umur.

Sementara itu pada masyarakat Dayak Kenyah Apokayan dikenal gendongan bayi yang disebut “ba”. Gendongan ini terbuat dari rangka kayu serta rotan dan dibuat sebelum bayi lahir dengan melibatkan seluruh anggota keluarga. Melalui “ba” seorang anak mengenal komunitasnya melalui ikatan dan kehangatan punggung orang-orang di komunitasnya dalam tiga tahun pertama kehidupannya.

Gendongan dari orang suku Dong dan Dayak Kenyah hanya dua dari 27 koleksi National Museum of Prehistory Taiwan dan 6 koleksi Museum Nasional Indonesia dalam pameran “Fertil, Barakat, Ayom; Budaya Gendongan Bayi yang berlangsung sejak 20 Oktober 2017 di Museum Nasional Indonesia. Pameran ini berakhir pada 29 Oktober 2017.[]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *