Ragam dan Jenis Gendongan Bayi di Indonesia

Gendongan bayi atau baby carriers merupakan suatu gejala sosial yang menarik perhatian. Melalui gendongan, seorang anak belajar mencerna dunia baru. Gendongan bayi menjadi jembatan antara alam rahim dan alam dunia. Melalui gendongan, bayi mengenal cinta dan kasih sayang sejati seorang ibu. Merasakan detak jantung dan kehangatan ibu yang penuh kesabaran mengantarkannya hingga siap memasuki kehidupan.

Namun sayangnya hingga kini belum banyak kajian tentang gendongan bayi dalam kebudayaan Indonesia oleh para ahli ilmu-ilmu sosial. Memelajari dan memahami gendongan bayi adalah memahami kebutuhan untuk memiliki perlengkapan atau wadah yang memungkinkan seseorang menggunakan tangan dan lengannya beraktivitas dengan cukup bebas, sambil pada saat yang bersamaan dapat  tetap mengendong bayinya. Hal ini merupakan gajala yang bersifat universal dalam kebudayaan manusia.

Selain itu, kebutuhan akan gendongan bayi juga memiliki maksud untuk melindungi bayi dari terik matahari, gigitan serangga atau serangan binatang lainnya, serta menjaga bayi agar tidak terjatuh saat dibawa bepergian.

Enam gendongan dari Indonesia koleksi Museum Nasional RI akan turut meramaikan pameran “Fertil, Barakat, Ayom; Budaya Gendongan Bayi” bersanding dengan 27 koleksi gendongan bayi dari National Museum of Prehistory-Taiwan.

Berikut gendongan-gendongan bayi Indonesia koleksi Museum Nasional RI:

Gendongan Noken di Papua

Masyarakat di Papua mengendong bayi dengan menempatkan bayinya dalam wadah noken yang disebut ibon dan menyampirkannya di atas kepala. Para ibu yang membawa ibon tersebut bisa berjalan berpuluh-puluh kilometer naik turun bukit dengan beban bayi di atas kepala.

Noken sebagai gendongan bayi di Papua ditanggapi masyarakat di sana sebagai rahim wanita. Seorang ibu tua di sana, pernah menyatakan kepada anaknya yang tidak memiliki anak dan ditinggal pergi suaminya bahwa noken anak gadisnya telah rusak, dalam arti rahim si gadis itu rusak.

Noken gendongan bayi di Papua dilihat sebagai lambang kesuburan wanita. Anak laki-laki di pulau Papua akan sangat dekat dengan ibunya sampai mereka mencapai umur akil baligh ketika mereka mulai ikut upacara inisiasi di rumah para laki-laki. Baru pada saat itu anak laki-laki mulai mengembangkan keakraban dan kedekatan dengan para laki-laki lain di kampung mereka. Sebelumnya mereka sangat dekat dengan ibunya, sangat tergantung kepada ibunya, dan hidup berkembang di sekitar aktivitas ibunya. Baru ketika memasuki masa akil baligh si anak laki-laki itu mulai diperkenalkan pada dunia laki-laki dengan diisolasikan ke dalam rumah laki-laki melalui satu upacara inisiasi peralihan siklus hidup.

Noken gendongan bayi harus diperlakukan berbeda dari noken lainnya. Di dalam rumah ia harus digantung di tempat yang berbeda dari noken-noken lainnya. Noken gendongan bayi hanya digunakan untuk mengendong bayi, dan tidak boleh digunakan untuk membawa barang-barang lainnya seperti buah-buahan atau yang lainnya .

Noken biasanya dibuat dari serat kayu yang halus namun kuat seperti serat pohon melinjo. Serat kayu itu diurai kemudian dipintal hanya dengan cara memutar-mutar serat-serat itu dipangkuan paha kita. Tidak jarang kulit paha jadi tergores dan luka karena kasarnya serat kayu yang sedang dipintal. Untuk membuatnya menjadi halus, masyarakat Papua menggunakan juga abu, atau madu, dan bahkan katanya ada yang menggunakan darah, saat memintal serat itu agar bisa menjadi halus dan lemas, namun bisa tetap kuat. Goresan kulit yang terluka ketika seorang wanita membuat noken bisa jadi makin menambah kuatnya asosiasi noken dengan kesuburan atau rahim wanita.

Karakter pintalan serat pohon kayu yang bersifat elastis menyebabkan noken juga bersifat elastis, dan memiliki kemampuan bisa membesar sesuai dengan besar bayi yang ada di dalamnya. Hal ini menyebabkan noken semakin kuat lagi berasosiasi dengan rahim wanita.

Ikatan dalam membuat noken juga berbeda dari satu sukubangsa dengan sukubangsa lainnya di Papua, dan hanya para pakar yang ahli dalam bidang ini yang bisa membedakan teknik ikatan antara, misalnya, noken dari Dani di lembah Baliem dengan noken dari Korowai di Kecamatan Yaniruma, Papua.

Bening; Gendongan Bayi dari Long Apari, Hulu Mahakam, Kalimantan Timur

Masyarakat Dayak Bahau menggunakan istilah bening untuk menyebut gendongan anak. Bening ini terbuat dari rotan dan kayu. Bening yang polos tanpa hiasan pada sisi luarnya digunakan oleh kalangan rakyat biasa. Pengunaannya pun diperuntukkan bagi kebutuhan sehari-hari yaitu menggendong anak balita. Para orang tua biasanya mengajak anak turut serta bekerja di ladang. Mereka menggendong anak di punggungnya menggunakan bening, sementara tangan mereka tetap beraktivitas.

Bening Aban; Gendongan Bayi dari Kalimantan Tengah

Masyarakat Dayak Apo Kayan sebagian besar memiliki mata pencaharian berladang. Ketika mereka memiliki anak berusia balita, biasanya anak tersebut tetap diajak berladang. Agar tetap dapat leluasa berladang, mereka menggendong anaknya di punggung menggunakan bening aban. Anak yang digendong menggunakan bening aban haruslah sudah mampu duduk tegak.

Bening aban digunakan untuk menyebut bening (gendongan) dengan hiasan manik-manik yang indah. Gendongannya sendiri terbuat dari rotan yang memang banyak tumbuh subur di wilayah Kalimantan Tengah.

Hiasan Bening Aban memiliki makna filosofi khusus. Seperti Bening Aban Long Nawan, Kalimantan Timur. Rangkaian manik-manik yang terdapat padanya merupakan hiasan pada bagian luar bening aban atau gendongan anak Dayak Kenyah. Makna filosofi dari bening aban sendiri yakni anak merupakan anugerah Tuhan dan harus dijunjung tinggi. Cara pemakaian bening aban seperti pada penggunaan tas ransel dengan posisi bayi berada di punggung ayah atau ibu yang menggendongnya.

Ragam hias wajah manusia dan macan pada hiasan ini menunjukkan bahwa pemakainya adalah bangsawan. Ragam hias manusia melambangkan roh nenek moyang sebagai pelindung, sedangkan ragam hias pakis bermakna keabadian dan kehidupan.

Baba; Gendongan Bayi suku Dayak Kenyah.

 

Gendongan bayi suku Dayak Kenyah yang dikenal masyarakatnya dengan sebutan Baba, terbuadari kayu dan bambu, berhias manik-manik dengan figur

manusia sedang berjongkok dan burung enggang, sesuai tradisi masyarakatnya. Dengan perangkat ini, bayi dapat digendong di belakang punggung, sehingga ia dapat selalu bersama ibu atau bapaknya selama mereka beraktivitas.

Bagai dalam buaian, tidak jarang bayi tertidur di dalam gendongan. Umumnya gendongan ini digunakan ketika bayi sudah bisa duduk hingga ia sudah bisa berjalan dengan baik.

Sarung untuk Menggondong Bayi dalam Masyarakat Sumba, NTT

Saat ini, masih banyak ditemui perempuan Sumba yang menggunakan pakaian tradisional yaitu sarung yang bentuknya memanjang hingga dapat mencapai pundak. Sarung polos biasanya dipakai untuk sehari-hari, sedangkan sarung bermotif dipakai pada saat tertentu seperti upacara-upacara adat.

Bukan hanya untuk menutupi tubuhnya, para ibu yang memiliki anak balita juga menggunakan sarung tersebut untuk menggendong anaknya. Cara menggunakannya adalah dengan memanfaatkan lengkungan sarung yang menjuntai dari pundak untuk menggendong anak di dalamnya. Cara menggendong ini menjadikan anak tetap hangat dalam pelukan ibu. Selain itu, juga memudahkan ibu menyusui anaknya.

Sarung dari Alor, Nusa Tenggara Timur

Kehidupan sehari-hari perempuan Alor tidak bisa dilepaskan dari penggunaan sarung. Sarung untuk pemakaian harian biasanya tidak dihias dengan motif, sedangkan untuk perayaan sarung yang dipakai lebih kaya ragam hiasnya. Bentuk sarung yang memanjang memungkinkan perempuan Flores untuk menutupkan sarung tersebut hingga ke pundak. Perempuan yang memiliki anak balita dapat menggendong anaknya pada lengkungan sarung yang menjuntai dari pundak tersebut. Cara penggunaan seperti ini membuat anak tetap hangat dan memudahkan si ibu untuk menyusui anaknya. Menggendong anak dengan cara seperti ini umum dijumpai pada masyarakat Nusa Tenggara.

Ulos Sadum dari Sumatera Utara

Ciri khas yang paling menonjol dari ulos sadum adalah kaya warna dan motif. Desain selendang yang meriah ini sesuai dengan peruntukkannya yang memang dihadirkan pada perayaan yang bersifat suka cita pada masyarakat Batak.

Seperti halnya pada saat upacara pemberian nama bayi, ulos sadum digunakan sebagai alat gendong bayi. Ulos ini juga dipakai pada waktu orang tua memperkenalkan si anak kepada kakek dan neneknya pertama kali. Kegunaan ulos sadum di beberapa daerah berbeda-beda, misalnya Tapanuli Selatan digunakan sebagai panjangki/parompa (gendongan) bagi balita keturunan Daulat Baginda atau Mangaraja.

Budaya Gendongan di Jawa dan Bali

Masyarakat di Jawa dan Bali biasanya mengendong bayi dengan menggunakan kain biasa. Di Bali anak bayi tidak jarang digendong dalam kain oleh bapaknya, karena para wanita Bali tidak jarang melakukan pekerjaan kasar yang cukup berat. Para laki-laki Bali yang sudah berkeluarga dan mempunyai bayi seringkali mengendong bayi mereka dengan bertelanjang dada sambil melakukan aktivitas kesenian  seperti main gamelan, melukis atau mematung di dalam berbagai himpunan berkesenian, seperti sekaha gamelan, sekeha tari, sekaha melukis, di dalam desa di mana mereka bergabung. Kebiasaan anak bayi  dibawa dalam berbagai kegiatan berkesenian sejak sangat dini seperti itulah yang barangkali menyebabkan orang Bali memiliki kepekaan seni yang tinggi.

Kebiasaan pengasuhan bayi oleh para lelaki Bali mengendong bayi dengan bertelanjang dada menyebabkan para laki-laki di Bali sangat dekat dan mengembangkan sikap alami yang hangat satu sama lain di antara mereka tanpa canggung  ditanggapi sebagai satu bentuk orientasi seksual terhadap lawan sejenis. Di tahun-tahun 1960an dan 1970an tidak jarang kita melihat para laki-laki Bali berjalan saling berangkulan tanpa takut mendapatkan stigma apapun. Hanya setelah akhir tahun 1980an orang mulai canggung melakukan kebiasaan itu karena takut dituduh sebagai homoseksual.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *