Kopi dan Pemberontakan

KahvinProject – Tulisan ini sebelumnya pernah dimuat dengan judul yang sama di situs legoso.co. Sebuah website yang menjadikan jalan Legoso Raya, Tangerang Selatan sebagai pusat aktivitasnya. Namun saat ini, situs tersebut tengah tiarap di dasar sana. Bisa jadi, setelah kami terbitkan di KahvinProject.com, tulisan ini akan sambung berkelanjutan dengan tema saling bertaut ke depan. Baiklah, selamat membaca kaitan erat antara kopi dan jiwa-jiwa pemberontak.

Disandingkan jenis minuman lain, kopi adalah yang paling akrab dengan pemberontakan. Mungkin khasnya ada di Indonesia. Banyak macam gerakan perubahan jenggirat dari bincang-bincang, yang tentu saja, ditemani satu, dua, atau tiga cangkir kopi.

Sungguh para pengopi itu tak menamakan diri pemberontak. Gerakan yang mereka rancang adalah perbaikan. Ingin mengubah suatu keadaan yang sudah terlanjur menjadi mesin penindas dan hanya menguntungkan segolongan tertentu. Tapi para penguasa serta orang-orang yang diuntungkan rezim dan tatanan pemerintahan yang mapan menilai gerakan pengopi-pengopi itu ancaman. Mengganggu ketentraman, ketertiban, dan keteraturan.

Rezim Orde Baru, contohnya, begitu paranoid atas ancaman penggulingan kekuasaan. Pemerintahan Presiden Soeharto kala itu sampai mengeluarkan larangan berkumpul kepada seluruh warga negara lebih dari lima orang. Setiap perkumpulan dicurigai bahkan aktivis-aktivisnya diculiki, dihilangkan. Segala bentuk hal-hal yang tidak seragam diberantas. Semua harus sesuai keinginan dan kemauan penguasa.

Layak kembali ke jaman purba, pimpinan adalah titisan Tuhan yang selalu benar. Maka masa itu, orang-orang tak sembarangan berkumpul, meskipun hanya sekadar ngopi dan ngobrol santai yang tak ada hubungannya dengan penggulingan kekuasaan.

Di petak pemikiran, ngopi menjadi sangat spesial. Banyak petak-petak pemikiran terkotak-kotak oleh logika yang sudah paten. Para pemuda dan pembaru mengobrak-abrik, merombak, lalu menata ulang gedung pemikiran itu. Semuanya diawali dari kegiatan sambil ngopi.

Ada pula mereka menyusupi suatu sistem dan aliran pemikiran yang gagah perkasa. Kemudian memeretelinya dari dalam hingga lumpuh dan runtuh. Mereka bikin ulang bentuk pemikiran baru. Semua itu bermula dari segelas kopi yang diseruput join rame-rame di taman-taman kampus atau ruang-ruang tembok beton empat sisi, juga di warung-warung kopi yang menyediakan menu rebus indomie.

Gerakan reformasi ’98 sampai perlawanan kepada penjajah Belanda, Inggris, maupun Portugis, semuanya sukses karena didiskusikan sambil ngopi. Hanya satu perang yang belum dimenangi, yakni melawan Amerika dan Zionis Yahudi. Hal ini kerap digalakan oleh rekan-rekan Muslim yang sedikit bergaris keras.

Kita tahu, kawan-kawan Muslim garis kanan alias keras ini takan pernah memenangi perjuangannya. Karena mereka mereka bertempur dengan memakai senjata yang diberikan oleh musuhnya.. Mereka berkomunikasi lewat handphone, sosial media, dan tulisan abjad. Mereka nongkrong di kedai-kedai berger dan ayam goreng yang mereka kutuki sendiri.

Tapi sesungguhnya bukan itu faktor dominan yang membuat mereka selalu akan kalah. Satu-satunya hal penting penyebab mereka takkan menang melawan kedigdayaan Amerika dan Zionis Yahudi adakag tak pernah mau diskusi, nongkrong, dan bikin Halaqah di serambi masjid sambil ngopi.

Akhirnya kita sudahi pembahasan, bahwa secuil kesimpulan, perlawanan hanya akan sia-sia tanpa diawali ngopi. Perjuangan tanpa ngopi laksana tungku tanpa api. Pemberontakan hanya sah dan kokoh jika dirancang sambil ngopi di malam hari. Dan pastinya, kita bisa jadi apa saja yang kita mau, perubahan apapun bisa terlaksana, cita-cita setinggi langit ataupun sejauh planet bekasi bisa tercapai. Segala itu asalkan kita rajin berlatih dan minum kopi setiap hari. [MS Wibowo]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *