Otodidakopi, Menyeduh dengan Hati

Sesuai namanya, Otodidakopi, mewakili pemilik sekaligus pendiri kedai kopi yang berlokasi di samping Gang Lima Satu, Jl WR Supratman No.18 Cempaka Putih, Tangerang Selatan.

Berawal dari kecintaannya terhadap kopi, Adri, mahasiswa UPN Veteran Jakarta, bersama Dika, mahasiswa UIN Jakarta, merintis usaha kedai kopi sejak Mei 2016 lalu.

Adri mengaku, kala itu sebenarnya belum tahu banyak tentang seluk beluk kopi. Ia pun berniat untuk mengikuti less seputar dunia kopi. Namun ia berpikir ulang karena selain butuh waktu dan biaya, ia juga masih sibuk dalam studi di kampus.

Oleh sebab itu, ia menambah pengetahuan kopinya via internet, seperti artikel dan video-video di youtube. Selanjutnya, ia mempraktikan pengetahuan yang ia dapat dengan mencoba menyeduh dan meracik kopi sendiri. “Otodidak. Belajar sendiri. Pokoknya enak dan nggak enak, terus belajar,” ungkap Adri, saat diajak berbincang di Otodidakopi, (6/1/2017).

Kebetulan pula, saat merintis Otodidakopi, Adri punya teman yang telah berpengalaman bekerja selama kurang lebih 5 tahan di Mata Kopi, Bintaro. Ia lalu mengajak temannya tersebut bergabung membangun bisnis bersama serta melakukan sharing knowladge.

Seperti diketahui, di wilayah Tangerang Selatan, khususnya Ciputat, saat ini telah banyak berdiri kedai-kedai yang menyajikan kopi-kopi dari berbagai daerah. Keadaan itu justru disambut baik oleh Adri dan teman-teman. Ditanya perihal ciri atau pembeda Otodidakopi dengan kedai kopi lain, Adri menjawab bahwa kopi yang disajikan di sini ini dibuat dengan hati.

Berlokasi di samping jalan, berada di jajaran ruko kecil, di sebelah kiri jika kita berjalan dari Ciputat ke arah Bintaro, Otodidakopi tak tampak begitu luas. Namun, kenyamanan dan kualitas penyajian kopi tentu tetap diutamakan.

Jenis kopi yang disajikan Otodidakopi adalah arabica. Sedangkan untuk robusta, Otodidakopi sengaja tidak menyajikannya. Menurut Adri, sebelumnya ia pernah menyediakan robusta, namun hanya sedikit pelanggan yang meminatinya.

“Terus untuk kopi yang dari daerah-daerah itu kita random. Jadi setiap kopi dari daerah ada yang habis, misalkan, maka kita ganti yang lain. Itu sengaja untuk kita mengeksplorasi kopi yang ada di nusantara,” tuturnya.

Metode seduh di Otodidakopi antara lain v60, clod drip, french press dan true brew. Otodidak Kopi juga menyediakan aneka makanan lainnya, sebagai teman untuk menikmati kopi.

Menu Otodidak Kopi

Bagi Adri, menikmati kopi bukan sekadar rasanya, namun lebih pada penghargaan atas proses yang dijalani oleh para petani kopi, pengeloah, dan seterusnya. “Enaknya kopi itu dibelakangin. Kita lebih menghargai proses petani kopi, roasting kopi, jadi lebih menikmati kopi di situ. Semua kopi itu sama saja, karena tiap orang punya selera masing-masing,” ujarnya.

Selama hampir satu tahun mengelola kedai kopi, banyak pengalaman dan hal terjadi, khususnya saat menghadapi para pengunjung / pelanggan dengan aneka karakter. “Ada orang yang idealis kopi, ada yang men-judge, begini begitu.”

Namun itulah salah satu fungsi kopi, sebagai perekat silaturahmi dan sarana transfer pengetahuan. “Kalau ada orang seperti itu, ya kita sharing-sharing aja. Karena memang salah satu guna kopi sebagai sarana sharing dan silaturahmi,” tuturnya.

Adri berharap, fenomena menjamurnya kedai kopi beberapa tahun belakangan ini bukan sekadar ‘musiman’ tapi sesuatu yang berkelanjutan. “Karena saya mendengar bahwa di tahun 2022 Indonesia menjadi tuan rumah kopi dunia,” pungkasnya. (ms_wibowie)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *